Minggu, 30 September 2018

singkat tapi bikin pintar


                    Singkat tapi bikin pintar

                             Oleh : Sulaeni

Tak ada yang lebih kuat dari firasat sendiri.

Tulisan ini di buat ketika bingung pulang Magang mau kemana? hehe

Bicara soal perasaan tidak ada seorangpun yang bisa menerka hal apa yang akan terjadi esok. sesuatu yang hari ini indah bisa jadi besok berubah menjadi buruk dan begitu juga sebaliknya. Pun bisa sesuatu yang kita anggap biasa hari  ini adalah sesuatu yang akan sangat kita sanjung di hari esok, begitu juga dalam hal cinta mencinta dan sayang menyayangi, ketika sudah bicara soal perasaan kita tidak bisa memisahkannya dengan dua hal yaitu rasa bahagia dan kecewa. Setiap orang pasti pernah berada di masa itu merasakan mencintai seseorang dengan begitu tulus dan pernah kecewa kepada seseorang dengan sangat dalam.  jatuh cinta dan kecewa tidak hanya di khususkan untuk seorang pria dan wanita dalam menjalin suatu hubungan bisa juga pada sahabat, kerabat ataupun orang -orang terdekat lainnya.

Tapi  yang sering sekali terjadi adalah persoalan cinta mencinta dan benci membenci antara pria dan wanita dalam menjalin suatu hubungan. 
Jika kamu berani jatuh cinta maka kamu juga harus menyisakan satu ruang untuk kecewa, ya kurang lebih seperti itu. Sebagai manusia biasa apalagi perempuan yang rentang dengan rasa baper, tidak butuh waktu lama untuk bisa mempercayai setiap kalimat manis yang keluar dari mulut lawan jenisnya. ya mungkin awalnya biasa sedikit cuek atau bahkan acuh tak acuh ibarat  batu kalau terkena air terus menerus lama-lama akan berlubang, sama halnya dengan hati, apalagi kalau air yang di kenai itu adalah perhatian dan kalimat2 manis yang kalau sudah kena hati susah untuk di hindari.
sebagai perempuan, gombalan dan rayuan adalah cemilan mereka di awal perkenalan meski sudah biasa dan tau rumusnya tetap saja sulit untuk menghindarinya.
Sedikit cerita, di bulan Agustus lalu cerita manis kecut dan asin dengan durasi pendek berakhir tanpa kejelasan rasanya kayak nonton drama lawyer lawless , digantung, mengambang dan tak jelas dan tiba2 saja muncul drama lain dengan tokoh yang sama cuman beda judul wkwk
yaa namanya juga  firasat calon ibu ya pasti benar dan tepat wkwk , ketika itu sebelum sebuah tradisi wajib itu tiba, tentu sudah ada perasaan kurang enak, yang rasanya seperti sedang ngemil buah kesemak yang belum matang, mau ditelan susah dan mau di muntahin juga susah, sepet banget.
Well,mari  kita tinggalkan buah kesemak yang jahat itu.
Berusaha  mematahkan firasat sendiri adalah cara satu-satunya yang di lakukan saat itu agar kemungkinan-kemungkinan buruk yang lalu lalang dalam pikiran bisa hilang dan tak terjadi. Tapi tetap saja tidak bisa di hindari, pikiran buruk itu selalu saja muncul sampai akhirnya terjadilah apa yang tidak di harapkan itu. Memang menyebalkan, menyesal rasanya karena pernah berandai-andai buruk . 
Sekiat apapun kita mengikat kalau sudah liar tetap saja terlepas, bicara soal kalimat ini jadi teringat sapi-sapi ku di kampung halaman eeeh (apasih).
Di sayang sudah,perhatian juga sudah lalu apa yang kurang? ternyata tak ada yang kurang hanya saja yang dia inginkan bukan kita. kurang lebih seperti itu.
Sebelum semuanya benar-benar berakhir diri selalu saja bertanya dengan batin sendiri kesalahan seperti apa yang telah di perbuat diri hingga ia harus bungkan tanpa kata?  akhirnya dengan niat ingin memperbaiki, memulai kata maaf adalah salah satu pilihan saat itu agar semua kembali seperti sedia kala, namun tetap saja ia memilih bungkam. Sampai akhirnya diri menyerah dan diam diam ikut  berlalu pergi tapi juga berharap untuk dicari.
Meskipun begitu walaupun diri juga ikut berlalu masih saja ada rasa menyalahkan diri sendiri dengan apa yang terjadi merasa diri sendirlah penyebab dari segalanya. Tetapi, setelah semua terlihat jelas dan pasti rasanya ingin berlutut dan meminta maaf kepada diri sendiri karena telah sepenuhnya menghukum diri dan menghakimi bahwa diri sendiri adalah penyebab dari segala yang terjadi. ternyata semua telah direncanakan dia berhenti karena memang sengaja ingin berpetualang ke arah lain tanpa harus pamit dari masa dimana ia pernah berjanji tinggal. 
Menyesal? tentu perlu karena dari situ kita bisa belajar banyak hal, karena beberapa orang mengaggap bahwa sebuah penyesalan seharusnya tidak dirasakan atau tidak perlu ada yang namanya menyesal, ada juga yang bilang bahwa menyesal itu mutlak ada. Sejatinya kita hidup untuk belajar, dari lahir sampai menjelang ajal kita pun belajar. Tuhan telah menciptakan banyak rasa untuk dirasakan oleh hati manusia, senang, sakit cinta, sesal dll. 
banyak orang yang mengatakan juga bahwa penyesalan selalu datang terlambat. memang benar adanya, takdir telah meletakkan penyesalan di akhir sebuah episode, tanpa menyesal kita tidak akan bisa belajar dari kesalahan yang sama. 
Tapi, penyesalan juga tak bisa berlarut-larut karena dapat menghancurkan hati dan mental secara perlahan. 
terimakasih untuk pelajaran berharga yang sempat dipelajari. pelajaran yang belum pernah dipelajari sebelumnya. meski berakhir pahit masih ada awal  bahagia yang masih layak untuk dikenang. 
NB: terimakasih telah membaca tulisan yang tidak berdaedah ini
Sulaeni, 30 september 2018














Tidak ada komentar:

Posting Komentar