Jumat, 22 Juni 2018

Hanya makhluk Alay yang ingin sembuh


             Rentang cerita
                 Oleh : Sulaeni

Akhirnya aku sampai pada batasku, akhirnya aku sampai pada titik yang tak bisa kulewati, aku tau akhirnya akan seperti ini, aku tidak pernah menyalahkan siapapun atas apapun yang menimpaku, aku tidak pernah mencari siapa yang harus ku salahakan untuk setiap sayatan luka yang tergores.
Aku menyadari semuanya, aku menyadari akhirnya sebelum cerita ini kumulai, aku menyadari semua resikonya ketika aku pertama kali menyukainya, saat ini mungkin tidak salah jika aku menangis juga mungkin bukan salahnya karena buatku menangis, mungkin salahku karena terlalu menaruh harap padanya, meskipun sebenarnya aku tau dia tidak mengatakan apa apa, tapi apa yang terjadi antara aku dan dia membuat aku berharap lebih, itu salahku.
Akhirnya tiba,
Akhirnya sudah di depan mataku aku rasa aku terjebak dalam beberapa hal yang tak mampu kuhindari, rasanya ini tidak adil untukku, bagaimana mungkin mencintainya seperti ini, bagaimana mungkin aku berharap lebih padanya yang sepenuhnya tak bisa kumiliki meskipun tubuh kasarnya, mungkin rasanya hampir sama seperti diiris.
Mungkin juga bisa lebih dari itu aku sudah terlalu berani bermimpi, aku sudah terlalu berani terbang dengan sayap yang tak lagi utuh, ku hanya berfikir bahwa mungkin ia akan menguatkan sayapku, tapi aku salah, kini aku terhempas jauh, jauh sekali, sayapku tak lagi kuat, mimpiku tak lagi indah, ini suram bahkan mungkin begitu menyeramkan, aku kembali ke masa dimana aku pernah ingin terbebas dan merdeka,  aku kembali pada titik sulit yang pernah aku lalui dalam hidupku, aku kembali kepada masa dimana aku pernah ingin lari darinya,
Sadar bahwa dekat bukan berati tak selalu bersama,bersama namun tak harus saling bersentuhan, bersentuhan namun tak harus selalu menyatu. Aku melupakan beberapa kenyataan bahwa ia hanyalah seseorang yang hanya mampu kurindukan dalam diamku, bahwa dia hanya orang yang hanya mampu kucintai dalam ketidaktauanku, aku melupakan kenyataan bahwa dia bisa saja pergi dan meninggalkanku, aku terlalu percaya diri mengatakan bahwa ia tidak akan bisa pergi jauh dariku.
Hari itu  waktu menunjukan semuanya, pertanyaan yang selalu ingin kujawab namun tak pernah bisa, Harapan yang selalu ingin kuwujudkan namun tak pernah kesampaian, hari ini aku memahami segalanya bahwa dia telah kembali ketempat dimana  dia pernah ingin mencoba terlepas, hari ini aku menyadari bahwa ia pergi ketempat dimana ia seharusnya tinggal, akupun pernah berfikir ingin menjadi tempat dimana ia akan tinggal, pernah berfikir ingin menjadi tempat dimana ia tak harus pergi dan mencari tempat persinggahan yang lain, mungkin egois, tapi sebenaranya aku hanyalah wanita yang juga ingin menjadi satu satunya di hatinya, ingin menjadi satu satunya orang yang ia cintai aku salah!  Aku hanya berfikir seolah olah aku tidak hidup dengan banyak orang, aku salah karena berfikir terlalu polos, mempercayai semua apa yang dia ucapkan tanpa berfikir bahwa dia bukanlah malaikat yang diciptakan tanpa hawa nafsu.
Mungkin benar, aku gagal, aku kalah dan aku keliru mencintainya. Benar aku begitu berharap bisa bersamanya dalam 7 kehidupan selanjutnya, tapi mungkin aku gagal, karena aku tidak bisa berada di antara keduanya, dan aku keliru pernah berfikir bahwa dia benar mencintaiku sampai akhirnya aku kalah karena keadaan cinta dan waktu tidak pernah berpihak padaku, aku kalah, tidak cukup bisa memenangkan hatinya,
Ketika semuanya usai, aku tak berfikir tentang bagaimana aku kedepannya, yang aku tau skrang aku tak lagi bisa mempercayai apapun dalam hidupku, aku tidak ingin terlalu percaya bahwa aku bisa mencintai dan jatuh cinta,rasanya sekarang semuanya berubah, rasanya sekarang aku tidak bisa terlalu percaya tentang cinta.
Yang aku tau sekarang aku seperti orang yang selalu merindu tapi tidak pasti apa yang harus kurindukan, Rasanya sekarang aku seperti mencintai tapi tidak tau apa yang harus kucintai, rasanya seperti menunggu tapi entah apa dan siapa yang aku tunggu, rasanya seperti mimpi,  ia datang, dan pergi, dan ketika terbangun aku hanya sendiri ,masih sendiri, dan mungkin akan selalu sendiri
Mungkin skarang dia bahagia, berada di tempat dimana ia sebenanya ingin pulang namun tertahan perasaanku yang terlalu ingin memilikinya, mungkin sekarang ia tersenyum lepas, senyuman mungkin yang tak pernah ia tunjukan padaku, mungkin sekarang ia sedang bersama orang yang benar benar ia cintai, namun selalu mencari alasan untuk mengatakan bahwa ia tidak mencintainya, akan tetapi dia terlalu bodoh, dia tidak tau bagaimana menyembunyikan perasaanya dengan benar, dia selalu mengatakan tidak, meskipun hatinya mungkin menolak, entahlah, mungkina karena ia takut menyakitiku atau karena hanya ingin menunjukan kalau dia terlalu pintar bersandiwara,
Jangan menunggu, Jangan berharap, Jangan menoleh. Berjalanlah, yakinkan hatimu bahwa ia takan kembali, yakinkan hatimu bahwa sekarang kita bukanlah apa apa, buanglah harapan itu, biarkan terkubur bersama waktu, nanti pada waktunya juga akan ada yang benar benar mengerti bagaimana kamu berjuang, akan ada yang berdiri disampingmu untuk selalu menggenggam tanganmu tanpa berfikir untuk melepaskannya, nanti akan ada saatnya dimana tuhan memberikan seseorang yang ketika bersama kamu akan selalu merasa jatuh cinta berkali kali, sampai km merasa bingung kenapa harus mencintainya
Akhirnya, aku sampai dititik dimana aku harus benar benar merelakanmu, membiarkan semua yang terjadi menjadi kenangan, Entah apa aku punya kemampuan dan kekuatan lebih untuk menghadapimu esok dan lusa, yang aku tau bahwa sekarang aku hanya ingin menjauh dari ketidakmungkina ini, mejauh dari kenyataa terburuk ini, aku berharap bahwa ini hanyalah mimpi yang sedang mengganggu tidurku, aku berharap bahwa tuhan sedang mencoba menggodaku.


NB : Cerita ini Bukan  berdasarkan pengalaman pribadi 

Terimakasih telah mampir Membaca tulisan yang tidak berfaedah ini.
(sulaeni)

                                                                                       

                                                                                                   Yogyakarta 22 Juni 2018




Tidak ada komentar:

Posting Komentar